.comment-link {margin-left:.6em;}
Monday, July 23
Niat Jualan Nggak, sih?
Di satu siang yang panas, di salah satu toko pakaian di satu pusat perbelanjaan.

"Mbak, baju ini ada ukuran S nggak ya?" saya bertanya pada si Mbak penjaga toko.

"Oh, nggak ada, mbak. Itu all size," jawab si Mbak.

Saya mengernyitkan kening sambil menatap pada label yang menempel pada kerah baju, dimana jelas-jelas terlihat huruf M yang melambangkan ukuran baju.

"Loh, ini ukuran M, Mbak. Berarti bukan all size, dong."

Si Mbak mengambil baju yang dimaksud dari tangan saya, mengecek label di kerah baju tersebut dan berkata dengan malas.

"Oh iya. Ada sih ukuran S-nya."

Ummm…… terus tadi kok situ bilang ukuran baju itu all size. Saya cuma bisa
mengira-ngira. Si Mbak itu beneran nggak tahu atau malas ngambilin ukuran yang diminta?

Tidak jadi membeli baju karena sudah ilfil duluan, saya melangkahkan kaki menuju penjual minuman franchise yang menjual aneka rasa minuman di salah satu pojok food court.

"Mas, es tebu satu sama es kacang hijau satu ya," saya memesan minuman untuk saya dan seorang teman yang nitip di kantor.

Si Mas mulai mengeluarkan dua gelas plastik, menambahkan es batu ke gelas-gelas tadi, kemudian mengisi salah satu gelas tadi dengan sari kacang hijau. Kemudian dia tampak ragu-ragu, dan berbisik pada temannya.

"Kenapa, Mas?" tanya saya, melihat gelagat yang kurang baik.
"Ini, Mbak. Ini gelasnya nggak ada tutupnya. Man, lu cari dong tutup buat gelas ini," kata Mas tersebut sambil memberikan uang pada temannya.

"Wah..lama, nggak, Mas?" tanya saya yang membayangkan saya harus menunggu si teman ini membeli tutup gelas entah dimana, di luar pusat berbelanjaan itu mungkin.

"Maaan…maan… lu pinjem aja deh dulu…," teriak Mas penjual minuman pada temannya yang sedang melenggang menjauh demi melihat saya yang mulai memajukan bibir.

1 menit, 2 menit….5 menit kemudian…. Suman atau Maman atau Mandra (nggak kenalan sih..:)) datang dan membawa SATU tutup gelas.

"mm.. Mbak, ini tutupnya cuma satu. Gimana ya?" tanya si Mas.

Hhhhhhh….. bukannya saya yang harus nanya??!

"Ya gimana, Mas. Emang nggak bisa pinjam dulu kemana, kek," saya berujar sambil mengedarkan pandangan ke segala penjuru food court.

"Kemana, mbak?" tanya si Mas lagi. "Mau pinjam kemana?"

Never mind, mas. Saya sudah malas untuk menjawab dan mengingatkan dia bahwa dia berjualan di food court, dan di sekitarnya banyak juga penjual-penjual makanan dan minuman. Atau mungkin saya yang terlalu berasumsi bahwa para penjual itu berteman? Maka setelah mengucapkan terimakasih yang tidak ikhlas saya pun berlalu.

Masih dengan perasaan sebal, saya berjalan mengitari pusat perbelanjaan, dan tiba-tiba pandangan saya tertumbuk pada toko yang menjual aneka pastries. Hmm… display-nya sungguh menggoda. Saya menghampiri toko tersebut dan mulai memilih-milih beberapa kue kesukaan saya.

"Mbak, pineapple pie satu sama apple pie nya dua ya. Berapa, mbak?"

"Jadi semua Rp 15.000,-, Mbak," sahut Mbak penjual pastries dari balik counter.

Saya meletakkan uang Rp 50.000 untuk membayar kue saya di atas counter.

"Wah, nggak ada uang kecil aja, Mbak. Nggak ada kembali nya, nih."

"Saya nggak ada uang kecil, Mbak."

"Wah, gimana ya. Tadi uang kecil kembalian dikasih semua ke mbak-mbak yang beli sebelum mbak ini."

Umm…apa gunanya informasi itu buat saya?? Memang saya kenal mbak-mbak itu? Kalaupun saya kenal, apa saya diharap bisa memaklumi bahwa mereka tidak punya kembalian?

"Jadi gimana, dong?" tanya saya putus asa. "Artinya saya nggak bisa beli?”

Mbak dibelakang counter hanya mengangkat bahu, yang artinya mungkin yaa… kalau mau beli, tukar dulu uang anda di warung terdekat.

Ya ampun. Ini di Pusat Perbelanjaan loooh…. Pada niat nggak sih jualan????!!!!

Dan siang pun terasa bertambah panas………….
 
posted by FLaW at 2:54 PM | Permalink | 9 comments
Tuesday, July 3
Anak Jalanan
Dia seorang bocah laki-laki kecil. Saya perkirakan umurnya sekitar tiga tahun. Badannya kurus dan kelabu. Rambutnya merah terbakar matahari. Dia mengenakan baju kaus berwarna hijau dan celana pendek warna coklat muda. Kakinya melangkah diatas sepasang sandal jepit kecil. Tangan kirinya memegang sebuah gelas plastik transparan bekas kemasan air mineral, sedang tangan kanannya menggenggam ‘alat musik’ yang terbuat dari sepotong kayu kecil yang pada satu ujungnya dipakukan beberapa bekas tutup botol minuman.

Saat itu dia berdiri di bawah sebuah traffic light. Saya melihatnya dari balik kemudi mobil di antrian lampu merah, pada jarak tiga mobil dari traffic light. Disamping saya berhenti sebuah sepeda motor, ikut menunggu lampu berganti warna. Melihat si bocah, saat itu saya berfikir, anak sekecil itu berkeliaran sendirian di jalan, dimanakah orangtuanya? Apa mereka tidak khawatir kalau terjadi apa-apa pada anak ini? Bagaimana kalau dia tertabrak kendaraan? Saya celingak-celinguk untuk mencari dimana kiranya orang tua si bocah. Di pinggir jalan itu, sekitar tiga mobil di belakang saya terdapat seorang ibu muda yang sedang menggendong seorang bayi sambil memegang peralatan musik serupa. Oke, itu dia sang ibu, begitu pikir saya. Terpisah sekitar sepuluh meter dari anaknya.

Si bocah kecil berjalan ke arah saya, berhenti di kaca pengemudi setiap mobil yang dilaluinya sambil mengulurkan gelas kosong yang dipegangnya. Saya bersiap menyambutnya dengan mengambil sekotak susu. Belakangan ini saya berusaha untuk selalu menyediakan susu kotak, minuman buah kotak, dan snack yang bergizi di mobil saya, untuk dibagikan kepada anak-anak jalanan di lampu-lampu merah.

Si bocah semakin mendekati saya. Tepat saat saya hendak membuka kaca jendela mobil, tiba-tiba saya lihat dia terpeleset dan terjatuh. Badan mungilnya terangkat dari trotoar yang lumayan tinggi dan terhempas di aspal pada celah kecil yang memisahkan trotoar dan barisan mobil. Kepala si bocah membentur pinggiran trotoar dan mendarat tepat di depan roda depan sepeda motor di samping saya, sedang kakinya terangkat ke atas. Jatuh tunggang langgang, mungkin begitu kata yang tepat untuk mendeskripsikannya.

Saya tersentak ngeri, tanpa bisa berbuat banyak. Si pengendara motor terlihat sama kagetnya dengan saya. Pelan-pelan si bocah bangun, dan mengambil gelas dan alat musiknya yang terlepas dari genggamannya. Saya tahu, pasti sakit sekali rasanya jatuh seperti itu. Tapi si bocah tidak menangis. Tepatnya dia menahan tangis. Saya lihat matanya berkaca-kaca, dan bibirnya agak maju dan bergetar sedikit. Di kaki dan tangannya tampak baret-baret luka, sedang bajunya menjadi kotor karena jatuh. Saat itu, saya juga dapat melihat jelas bahwa di keningnya terdapat bekas luka lama yang cukup lebar yang masih setengah kering, yang mungkin lebih pantas disebut koreng. Si bocah tetap berusaha bangkit sendiri dengan gemetar dan berusaha berjalan. Kelihatan sekali dia takut untuk menangis, entah apa yang ditakuti, mungkin takut dimarahi ibunya.

Saya panggil dia lewat jendela mobil saya, dia menoleh, berjalan sedikit mendekati saya dan menerima kotak susu yang saya ulurkan. Bibirnya tetap gemetar, matanya tetap berair. Tidak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Lalu si bocah berjalan menjauhi saya, pelan-pelan mendekati ibunya. Lampu berganti warna, dan saya maju pelan-pelan karena bunyi klakson dari orang-orang yang tak sabar di belakang saya. Dari kaca spion, saya melihat bocah ini dengan takut-takut mendekati ibunya yang tidak bergerak dari tempatnya. Perempuan itu hanya memandang si bocah saja dari jauh, dan meneriakkan sesuatu dengan galak, meskipun saya tidak bisa melihat ekspresi muka sang ibu dan tidak mendengar apa yang diteriakkannya karena saya sudah terlalu jauh.

..........

Saya belum punya anak dan saya bukan penggemar anak-anak. Bahkan biasanya anak kecil akan menangis kalau saya gendong. Mungkin mereka takut pada saya. Saya juga sedikit takut pada anak-anak, karena kadang saya tidak tahu saya harus bicara apa dengan mereka. Mungkin saya bukan orang yang sensitif. Namun pagi itu, saya menjadi sangat sensitif dan saya menangis di sepanjang sisa jalan menuju kantor. Wajah si bocah kecil itu terus terbayang di benak saya.

Kalau kejadian serupa terjadi pada keponakan saya, atau anak kenalan saya, yah… mungkin tidak serupa benar, karena saya berasumsi saudara dan kenalan saya tidak akan membiarkan anaknya saat berumur tiga tahun berkeliaran di lampu merah tanpa pengawasan. Tapi,… kalau saja anak mereka jatuh seperti si bocah tadi, saya bayangkan sang anak akan segera diangkat dan di cek seluruh badan untuk memastikan apakah sang anak terluka atau tidak, kemudian dibersihkan bajunya yang kotor, dan mungkin dibujuk agar berhenti menangis, bila perlu sambil menyalahkan trotoar yang ‘nakal’. Setelah itu mereka mungkin akan menambahkan nasehat agar sang anak lebih berhati-hati lain kali.

Tapi si bocah laki-laki tadi tidak mendapatkan itu semua. Saya sedih membayangkan bocah tadi tidak mendapatkan belaian dan usapan, yang dapat mengurangi sakit dan kagetnya. Saya sedih membayangkan baju bocah tadi tetap kotor karena tidak ada yang membersihkannya. Saya sedih saat membayangkan apa yang menjadi penyebab luka di keningnya. Saya marah karena anak sekecil itu harus mencari uang. Saya lebih marah lagi karena dalam mencari uang, keselamatan si bocah kelihatannya bukan hal yang utama, terbukti dari minimnya pengawasan sang ibu atas keberadaan anaknya yang berkeliaran di seputaran lampu jalan.

Apa jadinya kalau bocah tadi terpeleset saat lampu hijau? Dia dapat tergilas oleh kendaraan yang lewat.

Mungkin ibu sang bocah berpikir dia tidak punya pilihan. Bahwa meminta-minta di jalan adalah satu-satunya yang bisa dilakukan. Dan saya berusaha tidak menyalahkan si ibu atas pilihannya, karena saya tahu hidup itu susah dan mencari kerja itu susah. Tapi mengajarkan dan menyuruh anak untuk ikut meminta-minta? Saya tidak tahu lagi apa yang harus saya katakan.

Bukankah anak-anak juga mempunyai hak asasi? Mereka mempunyai hak asasi untuk dapat menjalani kehidupan seorang anak yang‘normal’, tanpa terbebani dengan keharusan mencari nafkah untuk kelangsungan hidupnya. Mereka juga mempunyai hak asasi untuk mendapat pengawasan yang cukup, karena mereka belum mampu untuk look after diri mereka sendiri? Bukankah itu semua menjadi tanggung jawab orang tua?

Memikirkan masalah pendidikan, saya bayangkan bagaimana sang anak akan tumbuh dewasa dengan menadahkan tangannya, menganggap bahwa suatu hal yang normal untuk mengharapkan uluran dari orang. Mempunyai anak merupakan tanggung jawab yang sangat besar. Tidak hanya sandang pangan yang menjadi urusan orang tua, tapi pendidikan dan pembangunan watak dan moral anak juga menjadi tanggung jawab orang tua. Dan saya pesimis tanggung jawab ini dapat dipenuhi oleh ibu sang bocah, dan mungkin banyak lagi orang tua dari anak jalanan.

Namun sekali lagi, mungkin keterbatasan pendidikan dan keterbatasan pilihan dan kesempatan yang menyebabkan banyak orang, termasuk ibu sang bocah, menjalani kehidupan jalanan. Siapa yang ingin hidup di jalan dan hidup dari meminta-minta. Siapa yang ingin kepanasan dan kehujanan. Si bocah kecil itu pun mungkin merupakan generasi kesekian di keluarganya yang hidup di jalanan.

Kalau begitu, siapa yang salah sebenarnya? Marah saya ini harus ditujukan kepada siapa?
 
posted by FLaW at 2:11 PM | Permalink | 4 comments